Senin, 29 Oktober 2012

Sejarah gorontalo



Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone.Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.
Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
* Pohala'a Gorontalo* Pohala'a Limboto* Pohala'a Suwawa* Pohala'a Boalemo
* Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
* "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.* Berasal dari " Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.* Berasal dari " Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.* Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.* Berasal dari " Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.* Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
* Berasal dari " Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah " Rechtatreeks Bestur ". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
* Onder Afdeling Kwandang* Onder Afdeling Boalemo
* Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
* Distrik Kwandang* Distrik Limboto* Distrik Bone* Distrik Gorontalo
* Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
* Afdeling Gorontalo* Afdeling Boalemo
* Afdeling Buol
Sebelum kemerdekaan Republik , rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.
Hari Kemerdekaan Gorontalo " yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia
Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
Info : www.gorontalo.go.id

Kamis, 20 September 2012

Haruskah kita biarkan bahasa Gorontalo tenggelam bersama Danau Limboto??


Sejarah mengungkapkan, bahwa Bahasa Gorontalo merupakan salah satu bahasa daerah Suku Gorontalo, yang terbentuk sejak lama, menjadi media komunikasi antar sesama Gorontalo. Saya pernah membaca sebuah ungkapan bahwa, bahasa adalah identitas bangsa, mendengar ungkapan tersebut kadang saya mengernyitkan kening, berfikir keras atas kalimat itu kemudian menyematkannya pada penggunaan bahasa Gorontalo pada rakyat Gorontalo sendiri.
Walaupun saya sendiri bukanlah asli gorontalo tapi kadang saya merasa risih sendiri, bahasa Gorontalo yang merupakan bahasa asli daerah ini, kini seakan mulai tenggelam bersama kondisi danaunya yang mulai menyempit, tidak sedikit anak bangsa yang notabanenya orang asli daerah ini malu menggunakan Bahasa Gorontal0, bahkan dalam percakapan antara remaja, seakan dirasa aneh jika ada anak remaja menggunakan bahasa Gorontalo, mirisnya dinggap orang pinggiran, orang desa, atau mungkin orang gunung.
Saya lebih baik tidak pandai berbahasa Inggris, dari pada saya tidak pandai bahasa daerah sendiri. Banyak kaum muda Gorontalo seakan malu menggunakan bahasa, meskipun menggunakan bahasanya, jika bukan pada kelompok atau keluarganya, mungkin karena ada orang luar daerah disekitar mereka, dan harus berbicara yang rahasi. Saya malu menjadi orang Gorontalo, ketika saya tak mampu berbahasa daerah Gorontalo, yang merupakan kekayaan Indonesia dalam hal bahasa. Saya beritahu kepada saudara-saudara sekalian, jika engkau pandai berbahasa Gorontalo, maka engkau akan memahami bagaimana budaya daerah ini, karena budaya tidak lepas dari bahasanya.
Sayangnya di Gorontalo, bahasa Gorontalo tidak diajarkan secara total di sekolah-sekolah, tidak dipelihara oleh masyarakatnya dalam pergaulan sehar-hari. Bahkan, ketika saya masih duduk di bangku SD pun bahasa Gorontalo seakan terpinggirkan, tidak sedikit guru-guru mengajarkan harus berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bahkan tidak sedikit juga orang tua melarang anak jika menggunakan bahasa Gorontalo dengan orang lain.
Satu menjadi kekhawatiran saya, jika kelak bahasa ini tidak dipertahankan maka kelak bahasa Gorontalo akan tenggelam bersama Danau Limboto yang makin makin dangkal, hilang bersama kejernihan air danau, membeku bersama lumpur dan timbunan rerumputan enceng gondok. Haruskah kita biarkan?

Rabu, 12 September 2012

Danau limboto


Danau Limboto merupakan sebuah danau yang terletak di Kecamatan Limboto, Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia. Danau ini memiliki kedalaman antara 5 hingga 8 meter ini, para pengujung atau wisatawan dapat menikmati berbagai kegiatan, antara lain, memancing, lomba berperahu, atau berenang. Selain itu, mereka juga dapat menikmati ikan bakar segar yang disediakan oleh mayarakat nelayan setempat dengan harga yang relatif murah.Danau Limboto merupakan danau besar yang terletak di Kabupaten Gorontalo. Danau dengan luas sekitar 3.000 hektar ini merupakan muara dari lima sungai besar, yakni Sungai Bone Bolango, Sungai Alo, Sungai Daenaa, Sungai Bionga, dan Sungai Molalahu. Pada era 1950-an, Danau Limboto memiliki kedalaman hingga 27 m. Oleh sebab itu, ketika Presiden Soekarno datang mengunjungi Gorontalo dan sekitarnya dengan pesawat amphibi, Danau Limboto dijadikan landasan pesawat yang dikendarai oleh Bung Karno ini.
Namun, saat ini kedalaman Danau Limboto hanya sekitar 7—8 m saja. Kedalaman yang seperti ini menjadikan Danau Limboto tidak seperti danau biasanya yang berbentuk seperti kolam alami. Danau Limboto memiliki bentuk permukaan berlumpur. Meski demikian, di tengah-tengah danau ini, pengunjung dapat melihat berbagai flora air tawar yang tumbuh di permukaannya, seperti eceng gondok, gelagah, dan bunga teratai. Di danau ini, pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan, seperti memancing ataupun berperahu.
Danau Limboto dari tahun ke tahun luas dan tingkat kedalamannya terus berkurang. Luas Danau Limboto pada tahun 1999 berkisar antara 1.900-3.000 ha, dengan kedalaman 2-4 meter (Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, 2000). Pada tahun 1932, luas perairan ini mencapai 7.000 ha
Danau Limboto saat ini kondisinya cukup kritis, kedalaman rata- rata hanya mencapai 2,5 meter, dan luas tersisa kurang lebih 3.000 hektare.
Pada 1932 kedalaman Danau Limboto masih mencapai 30 meter, sekarang terus menyusut, dan 1961 kedalamannya berkurang menjadi 10 meter dengan luas yang tersisa 4.250 hektare.
“Hingga kini dari 23 anak sungai yang menjadi pemasok air ke Danau Limboto dari arah utara, barat, dan selatan, hanya satu sungai yang mengalir sepanjang tahun, yaitu Sungai Biyonga dengan wilayah daerah aliran yang kecil sekira 68 kilometer persegi.
“Kerusakan Danau Limboto juga diperparah dengan adanya penebangan liar dan perambahan hutan di daerah hulu,”
Pemerintah pusat saat ini telah menyediakan dana sebesar Rp93 miliar untuk menyelamatkan Danau Limboto di Gorontalo.